Seputar Berita

Loading...

Raja, Nabi, Imam

Raja, Nabi, Imam

Selasa, 08 Juni 2010

TEKNIK BUDIDAYA IKAN BANDENG

Budidaya ikan bandeng tidak hanya berkembang di air payau, namun saat ini juga berkembang di air tawar maupun laut dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Budidaya ikan bandeng telah lama dikenal oleh petani dan saat ini telah berkembang di hampir seluruh wilayah perairan Indonesia, dengan memanfaatkan perairan payau dan pasang surut. Budidaya ikan bandeng tidak hanya berkembang di air payau, namun saat ini juga berkembang di air tawar maupun laut dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA)

Teknologi budi daya ikan ini juga telah mengalami perkembangan yang begitu pesat, mulai dari pemeliharaan tradisional yang hanya mengandalkan pasok benih dari alam pada saat pasang sampai ke teknologi intensif yang membutuhkan penyediaan benih, pengelolaan air, dan pakan secara terencana.

PRA BUDIDAYA

  1. Pembentukan management pengelola, yakni meliputi tugas dan hak pengelola budidaya selama berlangsungnya kegiatan.
  2. Penentuan Lokasi Budidaya dengan memperhatikan aspek dampak lingkungan dari kegiatan budidaya ini, Kontruksi tambak dalam tambak pembesaran kontruksi tambak yang digunakan terdapat 2 tipe yaitu tambak tanah dan tambak semi beton. Terdapat 5 tambak yang berkontruksi dinding dan berdasar tanah dan terdapat 6 tambak berdinding beton tetapi menggunakan dasar tanah. Untuk kontruksi tanah digunakan dalam pembesaran bandeng ini dikarenakan akan mempermudah menumbuhkan pakan alami selain itu bandeng memiliki tingkah laku mencari makanan diantara lumpur serta ikan bandeng lebih suka mencari makanan di dasar maupun di dinding tambak sehingga tambak yang digunakan menggunakan kontruksi tanah.

    Pada tanah di dasar tambak dibuat saluran dasar yang disebut kamalir dan sumur tambak atau kubangan tambak yang dibuat di dasar tambak untuk berkumpulnya ikan pada saat panen. Kamalir dan kubangan berguna untuk memudahkan penangkapan ikan bandeng dipanen. Untuk dasar tambak, tanah di dasar tambak harus miring atau tumpah kearah pembuangan air.

    Untuk pembesaran bandeng lebih sering menggunakan tambak tanah ini dikarenakan untuk mendukung proses pertumbuhan pakan alami. Selain itu bandeng lebih suka pada wilayah yang berlumpur dikarenakan bandeng memiliki sifat ikan yang mencari makanannya di dasar lumpur ataupun dasar tanah. Untuk penyediaan air ke tambak-tambak disediakan kanal atau serupa dengan sungai kecil yang memiliki kelebaran 2 meter, dengan menggunakan kanal maka sumber air payau yang berasal dari sungai akan masuk melaui kanal dan dari kanal akan menuju ke pintu-pintu masuk tambak. Dengan demikian, masuknya air ke tambak ini mengandalkan air pasang dari laut yang melewati sungai.

  3. Perhitungan Modal awal kegiatan budidaya, yakni Biaya investasi biaya tetap yang harus dikeluarkan oleh petambak untuk memulai usahanya. Biaya investasi meliputi biaya perijinan, sewa tambak dan pengolahan tambak serta pembelian peralatan. Biaya perijinan bernilai nol sebab biaya itu telah dibayar pemilik pada saat membuat tambak. Total biaya investasi yang diperlukan untuk tambak seluas 2 ha sekitar Rp 8 juta dengan biaya terbesar pelengkapan tambak. Biaya perlengkapan tambak adalah biaya untuk membeli pompa air dan membuat rumah pandega. Rumah pandega diperlukan sebab tambak berada di lokasi yang relatif jauh dari pemukiman sehingga diperlukan tempat untuk penunggu tambak. Tambak disewa selama 4 tahun, tetapi pembayaran sewa dilakukan setiap tahun. Sewa tambak saat penelitian adalah Rp 1.250.000 per ha per tahun. Pengolahan tambak memerlukan biaya yang besar terutama untuk biaya tenaga kerja. Peralatan antara lain adalah jaring, ember dan serok.

BUDIDAYA

Pada saat masa budidaya kegiatan yang dilakukan rutin adalah monitoring, Monitoring kualitas air memiliki peranan penting dalam proses kegiatan budidaya. Pada saat penebaran benih perlu dilakukan perendaman benih ke dalam tambak agar kondisi suhu air dalam plastik dan tambak tidak terjadi perbedaan suhu yang menyebabkan kematian pada benih bandeng. pengontrolan kualitas air dilakukan 2 kali dalam 1 minggu dengan tujuan untuk mengetahui kualitas air di tambak sehingga dapat melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan apabila terjadi penurunan kualitas air. selama kegiatan pembesaran bandeng tidak mengalami penurunan kualitas air, komdisi perairan yang baik dapat dikontrol apabila kondisi tanah baik dan selain itu dengan jumlah padat tebar yang sedikit maka dapat menjaga kualitas air karena feses dari sisa pencernaan sedikit sehingga dapat terurai secara maksimal di dasar tambak. Alat yang digunakan untuk mengukur kualitas air diantaranya adalah thermometer untuk mengukur suhu air, refraktometer digunakan untuk mengukur salinitas air tambak, DO meter untuk mengukur kandungan oksigen terlarut dalam air tambak dan pH meter untuk mengukur kesadahan air tambak



Kisaran kualitas air pada tambak tradisional pembesaran bandeng di adalah sebagai berikut:

• pH tanah 4,8 – 6,8

• salinitas 5 – 11 ppt

• DO 3,3 – 4,6 ml/L

• Suhu 25 – 300C

• pH air 7,5 – 8,8

• NH3 (amonia) 0,05 – 0,22 ppm

• H2S (asam belerang) 0,024 – 0,05 ppm

• Fe 0,04 – 0,63 ppm

Warna air pada tambak pembesaran bandeng secara tradisional di yaitu berwarna coklat kehijauan ini menunjukkan adanya kelekap dan fitoplakton yang tumbuh dalam tambak. Menurut Kordi dan Andi (2007), kualitas yang optimal untuk budidaya bandeng yaitu dengan kisaran pH 7 – 9, suhu 23 – 320, DO 4 – 7 ppm, dan salinitas 0 – 35 ppt. Untuk tumbuh optimal, biota budidaya membutuhkan lingkungan hidup yang optimal pula. Kualitas air dan pengaruhnya terhadap biota budidaya sangat penting diketahui oleh pembudidaya. Kualitas air dapat diketahui dari beberapa parameternya. Sebagai parameter untuk budidaya biota air adalah karakter fisik dan kimia.

PASCA BUDIDAYA

Panen bandeng pada tambak tradisional dilakukan pada bandeng berumur 6 – 7 bulan pada umur sekian bandeng telah cukup pada ukuran konsumsi. Pada ukuran panen dalam setiap kilogramnya berjumlah 4 – 5 ekor bandeng. Pada kegiatan pemanenan dilakukan pada pagi hari dilakukan untuk menghindari panas teriknya matahari selain itu dilakukan pada saat kondisi air surut sehingga mempermudah dalam proses pengurangan air dalam tambak.



Menurut Cahyono (2007), ikan bandeng dengan berat awal atau berat saat penebaran benih pertama dengan berat 40 gram dengan lama pemeliharaan 4 – 6 bulan akan mengalami peningkatan berat tubuh sebesar 250 gram. Sedangkan pada metode tradisional dibutuhkan waktu antara 6 – 7 bulan untuk mencapai berat tubuh 250 gram. Hal ini dikarenakan dalam pembesarannya, pada metode tradisional membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain itu, dalam kegiatan budidaya secara tradisional tidak mengunakan pakan tambahan melainkan hanya mengandalkan pakan alami yang tumbuh dalam tambak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar